donderdag 10 december 2009

HAJI LOBE TINGGI PARDEDE RUMAH NYA DI PARAPAT SEKARANG INI

BEBERAPA KETURUNAN/KELUARGA HAJI LOBE TINGGI PARDEDE/HAJI ABDUL HALIM PARDEDEFOTO BASI ALIAS KADALUARSA JADUL THN 70AN
MIJN OMA BORU HUTAGAOL EN MIJN OPA PARDEDE IK HOU VAN JULLIE

HAJI LOBE TINGGI PARDEDE RUMAH NYA SEKARANG INI

HAJI ABDUL HALIM PARDEDE RUMAHNYA SEKARANG DI PARAPAT




HAJI LOBE TINGGI PARDEDE/HAJI ABDUL HALIM PARDEDE RUMAH NYA DI PARAPAT



HAJI LOBE TINGGI PARDEDE RUMAH NYA SEKARANG

HAJI ABDUL HALIM PARDEDE RUMAHNYA DI PARAPAT

woensdag 25 november 2009

AMANI ZAINAB DOHOT NAN ZAINAB/KELUARGA HAJI LOBE TINGGI PARDEDE DI PARAPAT


'' AMANI ZAINAB'' DAN'' NAN ZAINAB''.SEMUA ORANG DI PARAPAT MENGENAL DAN MENYEBUTKAN PANGGILAN BUAT PASANGAN OPPUNG SAYA HAJI LOBE TINGGI PARDEDE DI PARAPAT,ZAINAB BORU PARDEDE SEORANG PUTRI YANG PALING TERTUA DARI KELUARGA HAJI LOBE TINGGI DAN MENGAYOMI DAN PANUTAN DI KELUARGA PARDEDE DI PARAPAT.NAMBORU ZAINAB SEORANG PAROHA NA LAMBOK DAN GIGIH DALAM HIDUP,SERTA RENDAH HATI''.ON MA NA PORLU SITIRUAN''

cucu kesayangan oppung haji lobe tinggi pardede ANJU HARUN BORU PARDEDE di parapat



oppung haji lobe tinggi pardede sangat mencintai anak nya yaitu ayah saya HARUN.pardede,sebagai suku batak toba yg sejati,tentulah anak nya yg laki laki ayah saya HARUN PARDEDE. dengan kasih sayang yang tulus oppung saya mohon agar keluarga anak nya H.PARDEDE dapat berkumpul serumah di parapat/sudimampir bersama dengan cucu-cucunya darah daging nya tentu boru pardede dan marga pardede"'ANJU MA AU PARUMAEN KU''.itulah bujukan oppung haji kepada nyonya H.PARDEDE BORU NASUTION,waktu itu lahir CUCU KESAYANGAN NYA,SANGKIN SAYANG NYA OPPUNG HAJI PADA CUCU NYA,OPPUNG SENDIRI YANG MEM BERI NAMANYA ''ANJU HARUN BORU PARDEDE''ANJU HARUN PARDEDE BERFOTO DUDUK BERDUA BERSAMA SUAMI NYA ISMAIL HARAHAP.SUAMINYA SI ANJU BORU PARDEDE SAMA SUAMINYA EDA IDA BORU SITUMORANG,ADALAH ABANG ADIK KANDUNG DARI KISARAN.HOT DO PARPAMILIAN I.SUDAH MAR EDA KALIAN,BER KAKAK ADIK IPAR PULA.

woensdag 5 augustus 2009

parapat kota asal trio ambisi

Trio ini adalah merupakan ranking teratas saat ini dalam hal jam terbang untuk dunia rekaman maupun undangan untuk manggung pada pesta pesta besar baik di sekitar Jakarta maupun luar kota.

Para personil trio ini adalah : Andy Situmorang, Joe Harlen Simanjuntak dan Charles Simbolon, khusus nama yang saya sebutkan terakhir adalah salah satu dari sedikit artis batak yang memiliki suara yang khas dan mempunyai talenta yang khusus.

Trio ini dapat disebut sebagai pionir group batak yang menyanyikan lagu kenangan pop indonesia pada tahun 2000, setelah J-M-T (Joel Simorangkir, Maruli Sinaga, Tony Simarmata) yang berlabel Blackboard pada tahun 1993. dan Brothers (Marulis Sinaga, Max Simanjuntak, Hermon Pangaribuan) yang berlabel Wahana Records pada tahun 1998. Trio Ambisi mencoba belajar dari kegagalan pasar yang dialami oleh rekan rekan mereka sebelumnya, khusus untuk JMT sebenarnya mereka tidak dikategorikan gagal, karena penjualan kasetnya selalu mengalir dan menambah kocek Blackboard Record yang memang sudah mempunyai pundi pundi besar dari hasil penjualan kaset nasional dan izin edar untuk lagu lagu baratnya, maka tidak terlalu jelas sampai berapa oplah cetakan yang telah mereka keluarkan.

Trio Ambisi adalah alternative dari Trio Amsisi, dengan vacuum nya keberadaan Trio Amsisi saat itu, Charles Simbolon mencoba coba untuk membangun satu group lagi, dia bertemu dengan Joe Harlen Simanjuntak dan Andy Situmorang sambil latihan dan bermain di lapo lapo dan cafe cafe batak saat itu, mereka merasa cocok untuk membangun karir mereka dalam bentuk penerbitan album.

Kerjasama dengan beberapa produser (terutama produser batak) mereka lakukan dan hasilnya tidak begitu memuaskan, bisa dipastikan karena kecilnya ruang lingkup distribusi yang dimiliki oleh produser batak tersebut, saat itu produser batak bagaikan mati satu tumbuh dua, artinya dalam satu tahun bisa muncul nama baru menjadi produser namun karena kelemahan manajemen maka tak lama kemudian redup bagaikan sumbu yang kehabisan bahan bakarnya.

Akhirnya mereka dilirik oleh seorang produser taipan yang telah banyak mengorbitkan artis artis batak saat itu, namanya Columbia Records, mereka dianjurkan untuk merekam suara mereka dalam sebuah kaset dengan menggunakan gitar kopong, tak lama setelah mereka menyerahkan hasilnya, Koh Rudy menyuruh mereka untuk masuk rekaman, terbitlah satu album batak dengan judul “Memory”.
Album ini tidak begitu menarik, namun karena penguasaan pasar yang cukup luas distribusi Columbia Records, dan banyaknya produksi produksi yang laku saat itu, maka Album “Memory” ikut terseret ke pasaran, dan Trio Ambisi mulai dikenal pendengar. Mereka juga menerbitkan album rohani dan dangdut batak dari produser ini.

Tahun 1993 Bragiri Records, dibawah pimpinan Binsar Silalahi pengusaha pedagang rotan asal Pakkat ini mempunyai insting yang cukup kuat, dia telah lebih dulu sukses merekam beberapa lagu dangdut indonesia, seperti “Pembaringan Terakhir” yang dibawakan Gabby Parerra.
Binsar sengaja memesan sebuah lagu khusus kepada Bunthora Situmorang (konon lagu tersebut adalah cerita kehidupannya) untuk dinyanyikan Trio Ambisi, jadilah lagu itu terekam dan dibuat dengan konsep yang matang, dengan kwalitas mixing yang betul betul diawasi dengan ketat maka tanpa ragu Binsar merelease album tersebut dengan mengeluarkan sebahagian dari tabungannya untuk dipakai pendobrak peredaran kaset Trio Ambisi. Hampir setiap hari lagu “Unang Au Solsoli” terdengar di TVRI dalam program nasional dan beberapa kali muncul di stasion TV swasta nasional.
Pasar tidak bisa dibendung, bagaimanapun distribusi yang tadinya kecil mendadak menjadi pekerjaan yang sibuk untuk karyawan Bragiri Record melayani pasar saat itu, saya pun termasuk salah satu yang sibuk memesan kasetnya pada saat saya berada di Purwokerto untuk salah satu proyek yang dilakukan perusahaan dimana saya bekerja, saya melihat iklan mereka di TVRI dengan clip seorang bintang iklan ngetop saat itu bersama seorang wanita cantik dengan menggunakan ulos, saya masih ingat persis adegan itu dilakukan didaerah salabintana, jawa barat.

Trio Ambisi kebanjiran job, dan mereka sering bepergian ke Medan, Palembang, Surabaya dan kota kota besar lainnya untuk menghibur orang orang batak yang betul betul kehausan setelah beberapa lama tidak terpenuhi.
Demikianlah berjalan sampai hampir 5 tahun mereka banyak mengeluarkan album dari produser produser lain, sedangkan Bragiri terlena dengan kesuksesan yang diraih atau konsentrasi dengan usaha yang lain maka untuk produksi kaset menjadi hal nomor urut terakhir.
Sejak tahun 1998 Trio Ambisi mulai agak lesu, mereka seringkali hanya datang ke studio sekedar bersenda gurau dengan rekan artis batak lainnya tanpa kegiatan yang pasti.

Bermula dari perbincangan atas kegagalan trio yang baru mengeluarkan album pop kenangan indonesia, Charles Simbolon diam diam merekam dalam hati perbincangan tersebut, menurut banyak kalangan kegagalan tersebut lebih terfokus kepada kegagalan warna vocal dan pelafalan, orang batak ternyata masih banyak tergelincir untuk pengucapan/bernyanyi berbahasa indonesia.
Beberapa hari kemudian dia menawarkan proyek untuk pembuatan proyek album pop indonesia kepada salah satu produser batak pendatang baru BMJ yang dimiliki oleh seorang pengusaha percetakan marga Tambunan.
Tambunan setuju dan menyerahkan seluruh ide tersebut untuk ditindak lanjuti oleh almarhum A. Sijabat yang bertugas sebagai pengumpul lagu, pelaksana rekaman.

Sijabat yang ditunjuk untuk melaksanakan album ini menghubungi Tigor Gibsy Marpaung sebagai penata musik dan penata vocalnya. dan didampingi musisi Jimmy Pangkerego, pemusik tamu Gatot untuk pengisi Gitar dan Henry Lamiri dengan gesekan biolanya.
Banyak sudah memang kalangan artis batak pada saat mendengar pada saat take vocal berkomentar. bahwa album ini akan menjadi pengukir sejarah baru lagi pada Trio Ambisi, perpaduan vocalnya yang hampir sempurna dari ketiga personil trio ini.
Tapi bukan Tigor namanya jika tidak ada kontroversi, dia mempermasalahkan beberapa kali pengisian musiknya, ….. #### lah, musiknya jangan dibuat seperti itu dong, ini harus diganti!! kira kira begitu komentar arranger Tigor Gipsy dengan aksen Medan nya yang terdengar khas dan sengau, kalau musiknya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. beberapa kali memang terjadi perombakan disana sini.

Singkat cerita, Trio Ambisi kembali menjadi bulan bulanan pasar lagu pop kenangan indonesia, lagu “Jangan Sampai Tiga Kali” ciptaan Tagor Pangaribuan, “Demi Kau dan Sibuah Hati” Ciptaan Pance Pondag adalah lagu yang sering terdengar, dari aceh ke papua lagu ini berkumandang dengan gelegarnya, baik di rumah rumah makan, karaoke bahkan di mobil angkutan, lagu mereka sering terdengar. Tambunan kaya mendadak!.

Berkat lagu pop kenangan itu juga mereka menjalin hubungan “keluarga” angkat dengan Gubernur Papua, dan khabarnya mereka mendapatkan hadiah berupa tanah di daerah itu, dan gubernur dengan tegas mempersilahkan kedatangan Trio Ambisi kapan saja mereka mau. Karena konon Trio Ambisi turut setia menemani Gubernur pada masa masa kampanye pencalonannya.
Puncaknya mereka diberi kesempatan untuk membuat album daerah Papua, sungguh hal yang belum terjadi selama ini. Seharusnya Trio Ambisi pantas menerima penghargaan dari Gubernus Sumatera Utara, bukan kah mereka dapat dianggap sebagai duta orang batak yang mampu membawa nama orang batak jauh melambung didaerah orang.

Trio Ambisi telah mengeluarkan tak terhitung lagi album batak dan pop indonesia tidak kurang dari 5 album dari peroduser yang berbeda, mereka juga ditaksir beberapa produser untuk membuat album daerah, toraja, minang dll. Perjalanan keluar kota adalah hal yang sangat rutin mereka lakukan, sampai mereka kelebihan job karena banyak yang berbenturan waktunya, maka group lain biasanya kebagian untuk menampung.

Tahun 2007 adalah puncak ketenaran dan awal merosotnya pula, karena pada tahun tersebut salah seorang personilnya Charles Simbolon menderita sakit, membuat dia harus opname di beberapa rumah sakit di jakarta ditambah dengan usaha untuk penyembuhan harus rela menahan sakit untuk pergi ke negara jiran malaysia, namun sampai saat ini dia harus istirahat total sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Mudah mudahan dia masih bisa bernyanyi, tukas salah seorang penggemar setelah melihat Trio Ambisi, Charles digantikan oleh orang lain mengisi kekosongan sementara.

zaterdag 1 augustus 2009

kota pariwisata parapat danau-toba

Berjalan kaki menyusuri Parapat, banyak hal menarik didapat. Di balik jalannya yang berliku dan turun-naik, Parapat menyimpan begitu banyak bangunan tua berarsitektur menggoda.

Parapat adalah kelurahan di tepi teluk di Danau Toba, masuk Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Lebih dari 90 persen penduduknya beretnis Batak Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak. Selebihnya, etnis Jawa, Sunda, Padang, dan China. Tak heran jika di kota kecil ini terdapat gereja Protestan dan Katolik, masjid, dan wihara.

Berjalan kaki menyusuri Parapat mengingatkan kita pada dahsyatnya letusan gunung api di sana ribuan tahun lalu. Letusan itu membentuk danau berukuran 100 km x 30 km dan berada 1.000 meter dari permukaan laut, dengan Pulau Samosir di tengahnya. Menakjubkan.

Rasa takjub sebenarnya sudah muncul jauh sebelum memasuki Parapat. Lepas dari Pematang Siantar, dari atas ketinggian tebing curam, kita sudah disuguhi keindahan Danau Toba yang menghampar biru di kejauhan. Hingga setengah jam kendaraan menuruni bukit terjal dan berkelok-kelok di bibir kawah Danau Toba, dapat disaksikan sisa muntahan bebatuan dan abu vulkanik yang menurut peneliti Universitas Teknologi Michigan, Amerika Serikat, sebagai bekas letusan mahadahsyat pada 75.500 tahun lalu. Letusan itu memuntahkan bebatuan dan abu vulkanik hingga radius 2.000 km² serta menimbulkan kegelapan selama dua minggu.

Petualangan jalan kaki saya mulai dari tengah kota, di perempatan jalan depan Inna Parapat. Hotel ini dibangun tahun 1911 dan menjadi hotel pertama di kota itu.

Dari sini saya menyusuri Jalan Marihat menuju kawasan Tanjung Sipora-pora hingga ke ujung barat. Jalan kecil berliku dan turun-naik cukup menguras tenaga. Di sepanjang jalan terdapat beberapa bangunan tua dengan arsitektur bergaya kolonial Belanda, sebagian besar kurang terawat.

Wisata arsitektur

Di kawasan paling ujung, kembali saya menemukan hal menakjubkan. Sebuah bangunan kuno berdiri kokoh di ujung tanjung bertebing sangat curam. Di kejauhan, di depannya terlihat fatamorgana Pulau Samosir bertemu dengan daratan Sumatera. Jika cuaca cerah, pada sore hari dari gedung ini terlihat jelas proses matahari terbenam di fatamorgana Samosir.

Di tempat ini, pada 1 Januari 1949, Presiden Soekarno diasingkan Belanda. Bung Karno bersama Agus Salim dan Sutan Syahrir dipindahkan ke sana setelah sebelumnya diasingkan di Brastagi, Kabupaten Karo.

Pesanggrahan buatan tahun 1820 itu berukuran 10 meter x 20 meter, dikelilingi halaman seluas dua hektar. Bangunannya bergaya arsitektur neoklasik atau dikenal sebagai Indische Architectuur.

Dari pesanggrahan ini saya jalan memutar menuju timur. Di sisi kanan ada beberapa bangunan tua dan di sisi kiri Danau Toba menghampar, sementara jauh di seberangnya terlihat mobil kecil-kecil melaju mengisi kesibukan lalu lintas Trans-Sumatera.

Dari sini saya kembali ke tempat awal dan langsung menuju kawasan timur Parapat melalui Jalan Bukit Barisan. Jalanan menanjak curam. Di sisi kiri-kanan jalan sangat banyak terdapat bangunan bergaya arsitektur kolonial. Beberapa di antara bangunan tua itu dijadikan kantor instansi pemerintah.

Kawasan ini tampaknya menjadi pusat kota tua Parapat. Soalnya dari seluruh tempat di Parapat hanya di kawasan ini cukup banyak terdapat bangunan bergaya arsitektur kolonial.

Gaya arsitektur bangunan di kawasan ini merupakan perpaduan selaras antara tiga unsur: tradisional, modern, dan tropis. Karya arsitektur yang ada umumnya menunjukkan perhatian besar pada iklim tropis Parapat terlihat pada jendela dan kisi-kisi ventilasi yang menjulang tinggi dari lantai ke langit-langit.

Meski Parapat kota sejuk, jendela dan kisi-kisi itu difungsikan juga sebagai corong pergantian udara dan juga agar penghuni dapat leluasa memanfaatkan cahaya matahari.

Di tempat ini terdapat beberapa bangunan dengan gaya arsitektur dipengaruhi aliran Delf. Hal ini terlihat dari upaya menggabungkan bangunan kotak dengan sistem kisi (grid) rasional, yang kemudian diperkaya dengan unsur pracetak untuk dinding luar.

Di bagian tengah kawasan timur ini terdapat bangunan gereja HKBP, mewakili arsitektur transisi klasik Eropa, terlihat modern tetapi tetap berciri tropis.

Di Parapat, bangunan tempat peristirahatan umumnya terinspirasi arsitektur vernakular Nusantara dengan adaptasi pada iklim. Ciri khasnya, halaman rumah adalah rerumputan yang menghampar luas.

Bagi orang Batak, rumah memang lebih dari sekadar tempat tinggal, tapi juga bangunan yang ditata secara perlambang, berkonteks dengan sosial budaya dan status kedudukan di dalam masyarakat.

Potensi besar

Meski Bung Karno sangat singkat bermukim di Parapat, tetapi dia menorehkan sejarah baru dengan memprakarsai berdirinya masjid di kota ini.

Pada tahun 1949, saat hendak melaksanakan salat Jumat, Bung Karno tidak menemukan masjid di kota ini. "Di sini belum ada masjid. Dirikanlah masjid untuk shalat orang-orang Islam yang singgah," ujar Bung Karno.

Mendengar ucapan sang Proklamator, Abdul Halim Pardede mewakafkan sebidang tanahnya untuk pembangunan Masjid Taqwa.

Parapat tentunya tak hanya bersejarah bagi umat Muslim, tetapi juga sangat bersejarah bagi umat Nasrani Batak Toba. Pada tahun 1909 dilakukan proses permandian suci oleh Pendeta Theis terhadap 38 orang Batak di kota ini setelah pada 12 Februari 1900 Pendeta Samuel Panggabean dan Friederich Hutagalung diutus ke daerah sekitar Danau Toba untuk menyebarkan agama Kristen.

Dari sini terlihat Parapat memiliki wisata alam, wisata arsitektur, dan potensi wisata rohani, wisata sejarah, bahkan wisata kuliner.

Parapat memiliki kuliner yang menarik, seperti lomok-lomok (lemak), ikan naniura (ikan mas yang dimasak pakai asam), ikan naniarsik (ikan mas yang diarsik), lapet, dali (susu sapi), sop ikan danau toba (nila) asam pedas, ikan bakar hopar, dan ikan pora-pora goreng. Memang kuliner khas Batak ini baru bisa dinikmati di hotel-hotel berbintang dengan harga relatif mahal, sementara sajian di kedai-kedai pinggir

zondag 21 juni 2009

bahasa indonesia ala medan

Orang Medan memiliki bahasa yang unik. Tapi jangan salah sangka, bahasa yang dimaksud di sini bukan bahasa daerah (seperti bahasa Batak). Penduduk Medan itu sangat heterogen, terdiri dari beragam suku/etnis. Jadi, ketika kita menyebut "bahasa Medan", yang dimaksud adalah "bahasa Indonesia ala Medan", bukan bahasa daerah*).

Berikut adalah beberapa di antara bahasa Medan yang khas tersebut. Banyak di antara istilah-istilah ini yang tentu sudah sangat akrab bagi kita. Tapi di Medan, pengertiannya benar-benar berbeda!


==============
ISTILAH-ISTILAH UMUM
==============

motor = mobil

kereta = sepeda motor

(agar tidak bingung, biasanya toko-toko tidak pakai istilah "service motor", tapi "service sepeda motor". Kalau ditulis "service motor", nanti dikira service mobil, hehehehe.... Toko-toko biasanya masih menggunakan bahasa yang umum dipakai di Indonesia, seperti "motor" untuk "sepeda motor". Tapi agar pengertiannya tidak campur aduk dengan "mobil" --- yang di Medan disebut sebagai "motor" --- maka mereka menggunakan istilah yang lengkap; "sepeda motor").

honda = sepeda motor (walaupun mereknya bukan Honda, tetap aja disebut honda, hihihi.....)

pajak = pasar

pasar = jalan raya (Di Medan, ada pula daerah-daerah yang disebut "Pasar 1", "Pasar 2", dan seterusnya. Pengertiannya mungkin lebih kurang sama dengan "Blok 1", Blok 2", dan seterusnya)

limpul = lima puluh (dipakai untuk menyebut uang Rp 50 atau Rp 50.000)

limrat = lima ratus (dipakai untuk menyebut uang Rp 500 atau Rp 500.000)

limper = lima perak (dipakai untuk menyebut uang Rp 5. Sekarang uang pecahan ini sudah tidak ada, jadi istilah limper pun mungkin sudah hilang).

====>> yang disingkat biasanya hanya pecahan uang dengan angka berkepala 5. Jadi kalau Rp 400 misalnya, tidak bisa disebut patrat hihihi.....

pening = pusing

pusing = keliling

deking = beking

paten = hebat

kali = banget, sangat ("hebat kali kau!" Artinya, "lu hebat banget deh!")

BK = plat kendaraan bermotor
(Plat motor di Medan memang BK. Jadi kita sering ditanya, "BK motor kau berapa?". BK ini sudah jadi generik di sana, sama seperti Aqua atau Rinso)


=================
SAPAAN AKRAB SEHARI-HARI
=================

Kak = panggilan untuk orang (perempuan) yang lebih tua atau dituakan (sama dengan Mbak di Jawa)

Bang = panggilan untuk orang (pria) yang lebih tua atau dituakan (tidak sama dengan bang becak atau abang tukang bakso, hehehee...)

Uwak = (panggilan sopan untuk orang yang sudah tua, semacam bapak/ibu, atau kakek/nenek gitu deh)

Orang medan juga jarang memanggil orang lain dengan sebutan "kamu"
"Kamu" itu dianggap sebagai bahasa yang sangat halus.
Mereka lebih suka pakai kata "kau"

Untuk menyebut dirinya sendiri, orang medan lebih suka pakai istilah "awak" (dari bahasa Melayu).

Tapi anehnya, istilah "awak" juga sering memiliki arti "kamu"

"sombong kali awak ini"
artinya: "sombong banget lu"

bingung kan?
hehehehe...


=============
DI ANGKUTAN UMUM
=============

Untuk menyuruh sopir berhenti, biasanya penumpang berkata "pinggir" (bukan "kiri").

"Kiri" justru biasa dipakai oleh kondektur untuk menyuruh pejalan kaki minggir.

"Kiri kau!"
maksudnya: "minggir lu!"


===============
ARAH DAN MATA ANGIN
===============

Untuk menyebut arah, orang Medan hampir tak pernah menggunakan istilah-istilah mata angin (utara, barat, timur, selatan, dan sebagainya).

Jadi, jangan harap orang Medan berkata, "rumahku di sebelah utara rumahnya."

mereka akan lebih suka berkata, "rumahku di sebelah kiri rumahnya."

Untuk menunjukkan lokasi tertentu di peta pun, mereka jarang menggunakan istilah-istilah mata angin tersebut.

Jadi, untuk mengatakan "Palembang terletak di selatan Medan", mereka lebih suka mengatakan, "Palembang terletak di bawah Medan."

"Medan terletak di atas Palembang"
Hehehehehe...


===========
PEMERINTAHAN
===========

Di Medan, Istilah dan konsep RT / RW sangat tidak populer.
Mereka lebih suka menggunakan istilah "kampung" atau "Lorong" sebagai bagian dari desa. Karena itu, di sana kita akan sering mendengar istilah "Kepala Kampung" atau "Kepala Lorong", disingkat "Keplor" (Tapi huruf "e" pada "keplor" dibaca sebagai e taling ---- seperti pada kata-kata pendek, belok, dst).


============
ALAT TRANSPORT
============

RBT = Ojek
RBT adalah singkatan dari Rakyat Banting Tulang :)

zondag 7 juni 2009

bonapasogit di belanda





orang batak kalau sudah di rantau,pastilah membuat kumpulan batak.dan seneng nya orang batak itu manottor/menari-nari tradisional batak dan tak lupa musiknya gondang biar lebih bisa merasakan waktu di kampung halaman di bonapasogit.terus tanya teman sekampung sudah gimana perkembangan di tempat turis dll.bernyanyi bersama dengan lagu batak toba terutama,apa lagi makna lagu batak itu sering mengena ke kehidupan orang-orang batak.terobati lah rasa rindu akan bonapasogit.juga di lengkapin makanan batak arsik.sambal ikan teri medan dll.duh lega nya hati ini.horas ma di hita ale bangso batak.